Diceritakanlah seorang pengembara berkelana hingga tiba di negeri viking nun jauh dari kampung halamannya di bumi khatulistiwa.
Negeri viking? yah begitulah adanya, negeri ini identik dengan cerita jaman dahulu kala mengenai viking yang sarat dengan kekerasan dan perompakan jauh dari cerita-cerita mengenai kampung halamannya yang terkenal sebagai negeri antah berantah yang kaya raya dengan sumber daya alamnya dan terkenal sekali dengan orangnya yang sangat ramah, namun itu sudah usang tertelan waktu.
Apa yang si pengembara dapati di negeri viking yang dikatakan oleh kebanyakan orang sebagai negeri kafir, jauh bertolak belakang dengan apa yang ada di kampung halamannya, yang terkenal sebagai salah satu negeri berpenduduk muslim terbesar di bumi ini.
Apa sih yang membuat si pengembara berkesimpulan seperti itu? ternyata banyak hal yang dia dapati tatkala memulai pengembaraannya di negeri viking tersebut.
contoh kecil adalah, ketika si pengembara akan menyeberang sebuah jalan, seperti kebiasaan di kampung halamannya si pengembara berhenti sejenak, menanti jalan kosong dari kendaraan yang lewat, namun apa yang dia dapati ? kendaraan yang tadinya meluncur dengan kencang, tiba-tiba berhenti dan mempersilahkan si pengembara lewat.
Sambil terkaget-kaget si pengembara berjalan dan bergumam di dalam hatinya, “hemm, andaikan di kampung halamanku bisa seperti ini, alangkah nyamannya berjalan kaki”.
Ada satu hal lagi yang paling berkesan di hati si pengembara, yaitu tatkala dia akan menunaikan shalat subuh yang kebetulan pada waktu itu agak siang karena telah memasuki musim dingin.
Di sebuah gedung yg kebetulan agak ramai, dia menghamparkan sajadahnya di suatu sudut ruangan, si pengembara dan temannya bergantian untuk menunaikan shalat subuh.
Tatkala teman si pengembara sedang shalat tiba-tiba ada dua orang kakek-kakek lewat dan sempat menoleh kepada mereka berdua, terutama temanku yg sedang shalat itu, namun apa yang kami dapati? mereka tidak merasa kaget dan aneh, mereka berjalan seperti biasa.
Kontras sekali dengan apa yang si pengembara dapati di negerinya sendiri, yang tatkala itu si pengembara akan menunaikan shalat di sebuah Masjid terbesar di negerinya, terlihat ada beberapa orang yang merasa aneh dengan kehadiran dirinya, padahal mereka adalah sesama muslim.
Si pengembara merasa aneh, lalu ia teringat akan ungkapan yang dia dapati, “negerinya memang terkenal sebagai salah satu negeri yang mayoritas berpenduduk muslim, namun sangat sukar mendapati perilaku islami, kebalikan dengan pengalamannya di negeri viking, dimana si pengembara merasakan sukarnya mendapati seorang muslim namun hampir mudah mendapati perilaku islami”.
Si pengembara pun teringat akan arti dari sebuah surah dalam Al-Quran yakni surah 49 Al Hujuraat, ayat 13:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Si pengembara termenung, sudah jelas apa yang di wahyukan oleh Allah melalui Rasull-Nya, bahwa manusia memang diciptakan berbeda-beda, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tidak ada bangsa yang lebih baik di muka bumi ini dan tidak ada pula suku yang lebih baik di muka bumi ini, hanya satu yang menjadi pembeda yaitu Taqwa yang menjadikan suatu bangsa atau suku Mulia disisi-Nya.








