Malaikat Jibril datang berkunjung ke tempat Rasulullah saw.
“Ya Muhammad, ALLAH mengutusku untuk menyampaikan sebuah hadiah yang tidak pernah diberikan-Nya kepada siapa pun sebelummu.”
Hadiah apa itu wahai Jibril?” tanya Muhammad ingin tahu.
“Sifat sabar. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Sifat qana’ah. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Sifat ridha. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Sifat zuhud. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Sifat ikhlas. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Sifat yaqin. Dan ada yang lebih baik dari itu.”
“Apa itu hai Jibril?”
“Untuk mendapatkan kesemuanya itu dibutuhkan sifat tawakkal, berserah diri sepenuhnya pada ALLAH Azza wa Jalla.”
“Apa itu tawakkal kepada ALLAH hai Jibril?”
“Tawakkal berarti engkau mengetahui bahwa selain ALLAH tidak ada yang bisa mendatangkan sebarang kerugian atau manfaat, memberi atau melarang, dan kau bersikap tidak menaruh harap pada selain-Nya. Apabila seorang hamba bersikap dan mempunyai sifat seperti ini, maka dia tidak akan mengerjakan sesuatu melainkan karena ALLAH semata-mata. Dia tidak berharap dan tidak takut melainkan kepada ALLAH. Dia tidak serakah mohon kecuali kepada ALLAH. Inilah yang disebut tawakkal.”
“Wahai Jibril, apa arti sifat sabar?”
“Yakni kau bersabar di saat papa, sebagaimana kau bersabar di saat kaya; kau bersabar di saat menerima bencana, sebagaimana kau sabar di saat sehat sejahtera; kau tidak mengeluhkan keadaanmu kepada makhluk lain atas apa yang kau terima dari ujian dan derita.”
“Wahai Jibril, apa arti sifat qana’ah, berkecukupan?”
“Qana’ah, berarti kau merasa cukup dengan apa yang kau terima dari duniamu; kau merasa cukup dengan yang sedikit dan bersyukur atas yang ala kadarnya.”
“Wahai Jibril, apa arti ridha?”
“Orang yang ridha adalah orang yang tidak murka pada tuannya, apakah dia memperoleh dunianya atau tidak; dan dia tidak rela dirinya menjalankan suatu tanggung jawab sekadarnya.”
“Wahai Jibril, apa arti zuhud.”
“Orang zuhud adalah dia yang mencintai orang yang cinta kepada Khaliknya, benci pada orang yang membenci Khaliknya, bersikap hati-hati dari bagian dunia yang halal, dan tidak menoleh pada bagian yang haram. Karena yang halalnya pasti akan dihisab dan yang haramnya akan dihukum. Dia kasih kepada seluruh kaum Muslimin seperti halnya dia kasih pada dirinya sendiri. Dia bersikap waspada ketika berbicara, sebagaimana dia menghindar dari bangkai yang sangat busuk baunya. Dia berhati-hati dari tipu daya dunia dan keindahannya, sebagaimana dia menghindari api dari melahapnya. Dia tidak berangan-angan panjang dan menganggap seakan ajalnya sudah berada di hadapan matanya.”
”Wahai Jibril, apa arti ikhlash.”
“Orang ikhlash adalah dia yang tidak memohon dari manusia lain, tapi berusaha keras sampai dia memperoleh cita-citanya; apabila dia telah memperolehnya dia akan rela. Jika masih ada sesuatu yang tersisa di tangannya, dia akan memberikannya karena ALLAH semata-mata. Orang yang tidak memohon dari makhluk, berarti dia telah menyatakan ubudiyah (kehambaan) kepada ALLAH Azza wa Jalla. Jika dia memperolehnya lalu dia rela, berarti dia telah rela kepada ALLAH dan ALLAH juga rela kepadanya. Apabila dia memberi semata-mata karena ALLAH Azza wa Jalla, maka dia memberinya dengan penuh keyakinan akan janji-Nya.”
“Wahai Jibril, apa arti yakin?”
“Orang yakin adalah dia yang beramal semata-mata karena ALAH seakan dia melihat-Nya. Sekalipun dia tidak melihat ALLAH, namun ALLAH melihatnya. Dia yakin bahwa apa yang terjadi padanya bukan sesuatu yang keliru dan apa yang tidak terjadi pada dirinya adalah bukan bagiannya. Semua itu adalah ranting-rantingnya tawakkal dan tangga menuju sifat zuhud.”








